Curcumin: Pahlawan yang Perlu Pendamping

curcuma

Curcumin adalah zat aktif yang terkandung dalam rimpang khas Indonesia, temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dan kunir/ turmeric (Curcuma domestica). Kedua tumbuhan penghasil zat aktif ini secara empiris telah digunakan untuk mengatasi gejala-gejala tertentu, seperti nyeri dan pegal-pegal.

Seiring dengan perkembangan jaman dengan adanya penelitian modern, ditemukan bahwa Curcumin memiliki aktivitas biologi dan farmakologi, antara lain: hepatoprotektor (pelindung liver), antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, dan bahkan antikanker. Hepatoprotector sangat baik dikonsumsi apabila kita sedang menggunakan obat-obatan yang dapat merusak hati, seperti paracetamol, kortikosteroid, anti-jamur, dan antibiotik. Di Indonesia, kini zat ini banyak digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan produk kesehatan konsumsi oleh perusahaan-perusahaan farmasi maupun makanan, antara lain Curliv® (sebagai hepatoprotector), Curvit® (kandungan Curcumin-nya lebih sedikit, namun dikombinasi dengan Lysine sebagai penambah nafsu makan), Curcuma Plus® (sama seperti Curvit®), Kiranti® (sebagai analgesik), dsb. Namun sayang kandungan Curcumin masing-masing produk tersebut masih terbilang sedikit.


Aktivitas antikanker Curcumin terdapat pada kemampuannya dalam menginduksi apoptosis (bunuh diri) sel kanker tanpa memengaruhi sel normal di sekitarnya. Dilansir dari drugdiscovery.com, aktivitas antikanker diperoleh pada dosis 12 gram per hari, namun karena kelarutan dalam airnya yang buruk, membuatnya sukar diserap tubuh (bioavaibilitas rendah) sehingga tidak dapat mencapai efek terapi. Walaupun dikonsumsi dalam jumlah banyak, konsentrasi Curcumin di plasma dan jaringan tubuh masih sedikit. Oleh karena itu, diperlukan modifikasi sehingga dapat meningkatkan bioavaibilitas (keberadaan dalam tubuh dalam bentuk yang dapat memberikan efek terapi) senyawa ajaib tersebut.

Selain karena kelarutan dalam airnya yang rendah, reaksi konjugasi enzimatik pada Curcumin yang tinggi di dalam tubuh melalui mekanisme glucoronidasi dan sulfasi juga menyebabkan rendahnya konsentrasi pada serum. Senyawa Curcumin hasil konjugasi memiliki aktivitas yang lebih kecil dari pada senyawa Curcumin aslinya.

Piperin, suatu senyawa alkaloid utama yang terkandung dalam lada hitam, telah diketahui sebagai memiliki aktivitas menghambat (inhibisi) glucoronidasi di saluran pencernaan dan hati, oleh karena itu dapat dikombinasikan sebagai “pendamping” Curcumin untuk meningkatkan bioavaibilitas Curcumin. Pada manusia, kombinasi tersebut meningkatkan bioavaibilitas Curcumin hingga 2000% setelah 45 menit dari konsumsi pertama kali. Pada penelitian tersebut, akhirnya tercipta formula nanopartikel Curcumin-Piperin dengan PEG yang mengandung copolymer.

Itulah gambaran dosis dan penemuan formula Curcumin untuk pengobatan kanker. Untuk indikasi lain tentu dosisnya akan berbeda, dan setiap perusahaan farmasi memiliki formulanya sendiri untuk meningkatkan bioavaibilitas Curcumin, baik dengan cara memberikannya ”pendamping” dengan senyawa lain maupun dengan teknologi formulasi. Untuk produk-produk seperti ini sepertinya produk Indonesia masih kalah dengan produk-produk supplemen import. Produk-produk import pada umumnya memiliki kekuatan (miligram) zat aktif yang jauh lebih tinggi dari produk lokal. Efektivitasnya pun pasti berbeda, namun tentu saja dengan harga yang lebih mahal pula.

Suatu senyawa pendamping kerap diperlukan untuk menjaga stabilitas dan bioavaibilitas senyawa utama. Vitamin C (asam askorbat) contohnya. Ia memerlukan bioflavonoid sebagai pelindung dan pembantu penyerapan sehingga bioavaibilitasnya tercapai. Sekarang produk Vitamin C di Indonesia sudah banyak yang mengandung bioflavonoid.